Pengintip

Selasa, 08 April 2014

menikmati mimpi

Sebenarnya kita tahu,
Masing-masing dari kita tahu bagaimana akhirnya nanti
Sudah berkali-kali hampir menepi
Berkali-kali kita pun mendayung lagi
Kita seperti sedang bermimpi
Mimpi yang berlalu hari demi hari
Waktu yang bergulir terasa sangat berarti
Kita pun terasa membawanya hingga ke puncak tertinggi
Apa yang terjadi ketika kita terbangun dari mimpi?

Kamis, 20 Maret 2014

harus bagaimana?

Sebenarnya terlalu kekinian untuk menulis sesuatu berdasarkan perasaan. Tapi ketika ingin bercerita tapi tidak tahu siapakah yang bisa diajak berbagi, menulis adalah salah satu jalan keluar yang mampu membuat pikiran sedikit lega.

Saat ini bisa dibilang pikiranku sedang buyar berbalut emosi. Aku marah, tapi entah kepada siapa. Aku marah, hingga luapan emosi ini hanya menjadi butir-butir air mata. Dadaku sesak seperti terdesak oleh sebuah balon yang terus mengembang dan sebentar lagi meledak. Nafasku terdengar seperti luapan uap kereta api. Aku marah pada keadaan.

Rasanya hati ini tidak mampu menerima kenyataan, di mana suatu perbedaan itu tdak mudah untuk sejalan. Selalu saja ada sesuatu yang salah, atau aku yang mencari-cari kesalahan? Atau mungkin aku sendiri yang mencari pembenaran? Aku hanya menginginkannya Tuhan, terlepas dari kuasaMu yang mengatur takdir.

Aku tidak tahu maksud dari sebuah pertemuan jika harus ada perpisahan. Tak masalah jika  hanya sepintas lalu, tapi jika perasaan sudah terlibat? Aku tidak tahu lagi artinya. Apa karena aku bermain-main dengan perasaan, padahal sejak awal aku tahu kalau ini tidak mungkin jadi kenyataan. Tapi aku ingin memperjuangkan.

Kenapa Kau harus ciptakan perbedaan jika pada akhirnya harus ada perpecahan. Kenapa harus ada si pintar dan si bodoh, kenapa harus ada si kaya dan si miskin, kenapa harus ada itu semua kalau pada akhirnya tidak bisa bersatu karena keadaan?

Kenapa tidak diberikan kemudahan, ketika memang pada kenyataannya kami melengkapi? Apa kurangnya? Apa ini bukan yanga terbaik? Kenapa tidak jadikan ini yang terbaik? Kenapa? Aku harus marah kepada siapa? Apa aku harus tetima saja? Telan bulat-bulat kenyataan.

Aku tidak bisa terima begitu saja karena ini semua terjadi terlalu manis. Aku terbuai. Menangis pun tidak menyelesaikan apa-apa, hanya seperti orang bodoh ingin terbang ke langit.

Perpisahan ini tidak aku inginkan, cerita ini selesai sebelum waktunya. Jika ditetuskan tidak ada akhir bahagia di ujung sana bukan? Aku tidak pernah bisa paham maknanya. Sekian kalinya aku patah hati karena keadaan.

Bisakah aku meminta? Bisakah aku meminta untuk menjadikan ini lebih mudah.? Aku harus bagaimana agar semesta bisa memeluk mimpiku? Apa aku harus menunggu, apa aku terlalu cepat ambil keputusan? Terlalu banyak pertanyaan sehingga selalu berakhir pada kemarahan. Sehingga pada akhirnya aku hanya bisa terdiam dan menangis. Begitu saja akhirnya.

Sabtu, 11 Januari 2014

in a relationshit.

The most important thing in a relationship is a communication. If there is no communication it is just a bullshit RELATIONSHIT!

Minggu, 29 September 2013

Apa Rencana Tuhan di Tahun ke 27?

Malam ini malam menuju tahun ke-27.
Merasa biasa-biasa saja hingga hanya bisa termenung.
Termenung dengan apa yang telah terjadi akhir-akhir ini.
Termenung dengan keputusan yang akan dan telah diambil.
Termenung dengan apa yang terjadi di hari nanti.

Setahun yang lalu ketika aku bangun pagi di usia ke 26, aku berada di atas tempat tidur yang keras. Terbangun oleh kokok puluhan ayam, dan udara dingin yang menggigit. Tidak ada perayaan, tidak ada kue ulang tahun berhias lilin yang bisa kutiup sambil mengucapkan harapan dalam hati. Seorang diri tersenyum, berdoa dan bersyukur bahwa Tuhan sudah beri aku kesempatan untuk hidup. Tuhan memberikan aku kesempatan untuk berada di Desa Indraloka Tulang Bawang Barat dan memaknai hidup.

Siapa sangka, murid-muridku di sana mengetahui hari lahirku ini. Mereka mengucapkan selamat dan memberiku bingkisan-bingkisan kecil yang luar biasa. Menyisihkan uang jajan hanya untuk memberikan satu piring kue cokelat untuk gurunya. Siapa yang tidak terenyuh. Perayaan terindah dalam hidupku. Ditengah kesendirian tapi mereka mengisi kekosongan-kekosongan hati yang ada.

Sungguh berbeda hari ini. Aku sudah kembali berada di dalam kamar yang cukup luas, ber-AC, tempat tidur yang empuk, selimut yang hangat, listrik berlimpah yang membuat semuanya menjadi terang. Nyaman dan tenang. Pekerjaan pun cukup menyenangkan hingga bikin badan mengembang, perut selalu kenyang.

Tuhan sudah kasih aku sahabat-sahabat yang mengisi kekosongan.
Tuhan juga sudah kasih seseorang yang benar-benar sayang, walaupun terbentang dinding perbedaan.
Tuhan kasih mamah kesuksesan dan kesehatan, serta memberi aa sedikit pencerahan.
Semoga Tuhan juga sudah memeluk papah di sampingnya untuk beristirahat dengan tenang.

Terima kasih Tuhan atas apa yang sudah Kau beri. Maaf, jika aku masih kurang bersyukur.
 
Aku ingin berputar lagi, tidak ingin seperti seratus perak yang tergeletak.
Aku belum merasa berbuat apa-apa.
Masih merasa kosong.
Aku ingin mengisi celah-celah yang kosong dengan banyak hal yang berguna.
Bukan hanya oleh nafsu dan ego semata.
Aku ingin melihat seluruh ciptaan-Mu Tuhan, aku ingin berbagi dengan seluruh hamba-Mu.

Tuntun aku Tuhan, semoga di usia 27 ini aku semakin tangguh dan semakin teguh :)
Selalu libatkan aku dalam setiap rencanamu, agar semua terasa semakin lebih sempurna.

Minggu, 04 Agustus 2013

Aku Takut Aku Lupa 2#

Aku Takut Aku Lupa 2#

Aku pernah menulis tulisan dengan judul seperti ini, ketika papah aku meninggal. Salah satu orang yang aku sayang dalam hidup ini. Akhirnya judul inikembali aku pakai, karena tulisan ini aku dedikasikan untuk orang yang aku sayang.

Kami bertemu secara tidak senggaja dua tahun lalu. Aku melihatnya di salah satu ruangan ketika aku berjalan di sebuah lorong. Dia berada di balik pintu sedang mengotak ngatik kamera. Dia sadar dengan keberadaanku saat itu. Kami saling tatap namun berlalu begitu saja. Tapi hati ini menyimpan rasa lain. Ibarat, mungkin itulah mulainya si rasa suka.

Intensitas pertemuan selama dua bulan ternyata membuat kami semakin dekat. Kami bersahabat. Keadaan membuat kami dalam setahun harus terpisah jarak. Terjadi sebuah perpisahan haru dengan sebuah pelukan erat.

Kami masih menjalin silaturahmi lewat sebuah komunikasi. Bertukar kabar dan berakhir dengan cerita sehari-hari. Kadang aku menanti-nanti, apakah akan ada kabar hari ini.
Aku suka, atau mungkin atau sudah mulai jatuh cinta.

Enam bulan berlalu, tak sabar menahan rindu. Aku pulang hanya sejenak dan ya, aku ingin bertemu.

Seharian kita bersama, berbagi cerita, hingga aku dibawa untuk lihat laut biru di sebuah dermaga. Dia memberikan aku hal-hal sederhana yang membuat aku makin jatuh cinta.

Setahun berlalu kami kembali bertemu. Kami banyak melewati hari-hari bersama. Rasanya bahagia. Mungkin orang-orang tidak tahu bagaimana aku bahagianya saat itu.

Satu hal yang membuat kisah bahagia ini terasa sulit adalah perbedaan. Dia dengan dunianya, aku dengan duniaku. Cukup banyak perbedaan, tapi hati kita satu.

Aku ingat ketika aku bilang kita itu punya tujuan yang sama tapi perahu dan arah datang kita berbeda. Ketika kita memutuskan akan berada di perahu yang sama, aku takut akan menjadi pemegang kendali.

"kamu boleh pegang kendali, tapi aku yang akan menentukan arah," itu jawaban dia.

Kami berbincang cukup lama, hingga akhirnya kami yakin untuk berbagi perasaan dan kasih sayang.

Dibalik perbedaan ini semua terasa sempurna. Aku sayang dia.

Dia bagaikan sebuah rumah, yang ketika aku pulang sehingga akan selalu membuatku merasa nyaman.
Dia bagaikan sahabat dalam suka dan duka.
Dia bagaikan malaikat penjaga.
Dia bagaikan pemberi kehangatan.
Dia bagaikan tuan kasih sayang dan tuan setia.
Dia bagaikan pengganti papah yang telah pergi.

Banyak orang yang menganggap remeh tentang hubungan ini. Mereka tidak mengerti dan mereka tidak paham. Mereka tidak merasakan. Perbedaan bukan masalah jika kita memang nyaman menjalankannya.

Delapan bulan berlalu. Perahu masih melaju. Tawa canda berhiaskan pertengkaran. Tapi kami tetap saling sayang.

Hingga sampailah pada pola pikir kami yang ternyata terlalu sering tidak searah. Aku dengan arahku, dia dengan arahnya. Kendali terlalu kupegang erat, hingga dia pun sulit untuk mengendalikan arah. Mungkin tertekan. Selain itu pandangan aku terhadap suatu hal, yang ternyata tidak satu bingkai dengan dia. Prinsip kepercayaan kepada suatu hal ternodai, hingga sulit untuk dibersihkan. Dan juga perbedaan yg menghantui bayangam masa depan.

Lelah.
Aku ingin perahu ini bersandar.
Aku tahu kami belum sampai di tujuan.
Tapi kami sudah tidak terkendali dan memperhatikan arah.
Kami kehilangan arah.
Kami pernah coba untuk kembali berlayar, tapi ternyata kembali kembali bersandar.
Kami sama-sama lelah, dan memutuskan untuk berpisah.
Melupakan mimpi, harapan, dan tujuan, kembali ke ego masing-masing.

Forgive not forget.
Aku tidak akan melupakan perjalanan indah ini. Kita selalu punya cerita bersama, manis dan pahit. Kita hanya perlu memaafkan tanpa perlu melupakan.

Terima kasih my best man, Teguh Waspada.


so good when i see you feel happy and laugh about something :)





Jumat, 14 Juni 2013

Maybe when we hate each other, it much easy for us to forget that we ever loved each other. This is hard, but believe this is the best for us.
You come to my life for some reason, and you are the sweetest, the nice, and the best moment in my life. But the universe not being with us. Thanks for all you did.

-14 June 2013 -
Me, a mean girl

Minggu, 09 Juni 2013

too much

too much tear
too much different
too much distrust
too much fight



should i end this hard relationship?