Pengintip

Senin, 04 Juni 2012

Kentungan dan Gerhana Bulan


Sewaktu aku di Bandung aku pernah menyaksikan gerhana bulan total, yang tadinya bulan purnama bersinar dengan indahnya lama-lama cahayanya menghilang. Aku melihatnya dari balik kemudi mobilku, sepanjang perjalanan Aku menyaksikan hilangnya sang rembulan. Sayup-sayup Aku mendengan suara takbir, rasanya seperti malam takbiran menyambut hari Lebaran saja.

Aku merasa beruntung melihat gerhana bulan, karena peristiwa ini jarang terjadi. Seringnya aku hanya dengar di buku mata pelajaran IPA saja. Tapi ya itu tadi, Aku hanya merasa beruntung saja, tidak kurang tidak lebih. Berbeda halnya dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat di Tulang Bawang Barat ini, khususnya di Desa Indraloka 2.

Aku sudah mengalami dua kali gerhana bulan selama berada di sini. Kali pertama pada 10 Desember 2011, aku bingung, karena masyarakat desa ini seperti membunyikan kentungan. Seperti apa yang Aku ketahui, jikalau kentungan berbunyi pasti adalah tanda bahaya. Aku bertanya kepada seorang muridku, mengapa orang-orang membunyikan kentungan?

"Emang Ibuk ga tau? Di sini memang seperti itu Buk kalau gerhana bulan," jelasnya.

Konon katanya gerhana bulan yang terjadi di malam hari adalah akal-akalan dari roh jahat yang ingin mengambil ternak milik masyarakat. Keadaan yang gelap dimanfaatkan untuk mencuri ternak. Warga yang ketakutan pun ingin mencegah kejadian tersebut, sehingga semua sepakat untuk membunyikan kentungan agar "benda yang menghalangi" cahaya bulan segera menghilang, dan bulan pun bisa bersinar kembali.

"Ayo buk, kita ikut membunyikan kentungan!"

Aku tertawa menyaksikan ulah muridku itu. Besar di kota membuat aku tabu akan hal-hal seperti ini. Bahkan aku tak menyangka di tahun 2012 seperti ini masih ada kepercayaan seperti itu. Tapi di sinilah keunikannya, melihat dan merasakan hal-hal baru di daerah baru itu sungguh luar biasa. Memperkaya pengetahuanku tentang nusantara. Bahwasanya gerhana bulan itu di sebagian benak penduduk Indonesia bukanlah bulan yang tertutup oleh bayangan umbra bumi.

Hari ini ketika aku melintas di kampung Bali sepulang dari dokter gigi, aku mendengar kembali suara kentungan. Refleks aku melihat ke langit mencari bulan, aku bertanya-tanya apa iya hari ini gerhana bulan? Ternyata memang benar, ketika aku terjun ke dalam linimasa dunia maya tersebutlah bahwa malam ini terjadi gerhana bulan sebagian.

Satu hal yang aku pelajari, walaupun globalisasi sudah terjadi di sana sini, kebudayaan akan terus hidup turun temurun tanpa ada aturan tertulis. Ini adalah salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia. Masih banyak kebudayaan-kebudayaan lain di nusantara ini yang tersembunyi, bahkan nyaris terlupakan. Kalau aku tidak datang ke sini, mungkin aku adalah salah satu generasi yang hilang akan tradisi.

Dua Sisi Pernikahan

"Mbak Mel tahu Mia?"
"Tahu, yang anak SMP itu kan?"
"Iya, malam ini dia lamaran"
"HAH?"

Perbincangan ini terjadi hari Sabtu ( 2/06) lalu. Cerita tentang Mia ini aku dapatkan dari Ibu Angkatku selama Aku tinggal di Tulang Bawang Barat ini. Ya, cerita tentang pada akhirnya banyak perempuan di desa memutuskan menikah di usia sekolah.

"Yah begitulah Mbak kalau di desa, perempuan kalau sudah selesai sekolah dari pada nggak ngapa-ngapain ya lebih baik dinikahkan saja."

Banyak sekali aku menemukan fenomena itu di sini. Bayangkan pertama kali aku datang dan berkenalan dengan tetangga, aku bertemu dengan seorang gadis muda berumur 18 tahun. Aku pikir dia bisa jadi temanku di sini, tapi setelah Aku masuk ke rumahnya ternyata dia sudah memiliki anak yang hampir berumur 2 tahun. Selulus SMP dia menikah dengan lelaki yang seumur denganku yang kerjanya pun serabutan. Kalau mendapatkan kasih sayang yang setimpal sih menurutku tidak jadi masalah, tapi Aku melihatnya dia lebih terlihat seperti pelayan pribadinya sang suami.

Ketika aku tanyakan lebih lanjut kepada Ibu memanglah seperti itu keadaannya. Anak gadis dari pada tidak ada kerjaan, lebih baik dinikahkan saja untuk meringankan beban orang tua. Bahkan kalau tidak dinikahkan malah jadi pusat omongan. Dinikahkannya pun tidak melihat bebet bobot dan bibit si calon suami asal suka yah langsung saja ke KUA. Tapi kalau tidak suka tapi orang tua sudah suka yah terima nasib aja.

Aku memandang ini semua seperti dua sisi mata uang yang memiliki nilai yang berbeda. Di satu sisi aku melihat bagaimana seorang wanita seperti membeli kucing dalam karung. Dia menyerahkan hidupnya untuk seseorang tanpa berpikir panjang, karena yang penting menikah. Apa yang terjadi setelah itu? Tingkat perselingkuhan dan tingkat perceraian di desa ini sangat tinggi. Tidak jarang kabar tersiar tentang si ini mau cerai lah, si itu selingkuh lah, si ini pergi tidak kembali-kembali, dan si itu yang nikah kembali padahal masih memiliki keluarga.

Coba bayangkan yah, ada seorang laki-laki dengan pekerjaan hanyalah sebagai supir truck, tapi dia nikah sudah hampir tiga kali bahkan tiga-tiganya keluarganya berantakan. Aku jadi berpikir dia ini menikah hanya untuk menyalurkan nafsu kepada pihak wanita atau memang benar-benar ingin menikah di jalan Tuhan? Bahkan aku pun berpikir apa ada yang salah dengan si wanita ini sampai-sampai mau saja dinikahkan oleh lelaki macam itu. Apa yang bisa diberikan oleh si lelaki ini dengan hanya bermata pencaharian sebagai seorang supir truck untuk istri-istrinya? Pemuasan nafsu?

Tidak berpikir panjang, siapa korban selanjutnya ketika pernikahan-pernikahan seperti ini terjadi? Anak-anak.

Setiap saat aku mendengar orang yang menikah muda, setiap saat aku teringat oleh murid-muridku yang memiliki tekanan batin dalam dirinya. Yang berpura-pura bahagia seperti teman-temannya, akan tetapi dalam hati kecilnya menangis tersedu-sedu mengingat ayah dan ibunya. Entah ayahnya yang pergi atau ibunya yang pergi, sehingga yang mengasuh pada akhirnya ya nenek dan kakeknya yang dulu berperan sebagai orang yang menikahkan orang tua si anak.

Ada seorang muridku, dia memiliki tubuh yang sangat kecil padahal dia sudah kelas 5 SD. Pikirannya entah kemana, sehingga dia lambat dalam menerima pelajaran. Ketika kegiatan belajar mengajar dia selalu saja tidak konsentrasi dan hilang fokus, sering aku menegurnya, Nilai-nilainya pun sudah bisa ditebak, seperti tangga nada tapi berhenti di sol. Pekerjaan rumah jarang dikerjakan pula olehnya. Aku pun tidak bisa tutup mata dan tutup telinga, sehingga aku selalu memberikan perhatian lebih kepada anak ini. Tapi itu tidak memberikan perubahan, sehari dua hari bereaksi tapi hari-hari selanjutnya pun mulai hilang efek sampingnya.

Akhirnya aku pun memanggil orang tuanya ke sekolah, tidak ada tujuan lain aku hanya ingin menyampaikan perkembangan anaknya. Dilihat dari nilai-nilainya anak ini belum bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi sesuai dengan standar yang ditetapkan sekolah. Aku sebenarnya bukan seorang guru yang memandang si anak pintar melalui nilai saja, aku selalu melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh murid-muridku. Tapi sekolah tetap memandang salah satu syarat naik kelas adalah nilai. Aku pun berbicara panjang lebar dengan sang Ayah, bahkan aku sampai menangis di depan sang Ayah. Semustinya itu tidak terjadi, tapi air mata ini rasanya tidak bisa dibendung lagi.

AKu tahu latar belakang dari muridku ini. Dia sudah dua kali ditinggal oleh ibunya. Sama sekali dia kurang mendapat perhatian dari sang Ayah, karena sang Ayah sibuk berladang. Padahal kalau di lingkungan masyarakat Ayahnya ini terkenal sebagai pemuka agama. Sedangkan kakaknya hanyalah seorang pemuda desa yang  tidak mau sekolah dan kerjanya menjadi buruh di ladang karet. Muridku ini total tidak mendapat perhatian dari siapapun, sehingga tingkah lakunya pun menjadi aneh cenderung menjadi orang yang haus akan perhatian.

Aku hanya mampu bilang, miris.

Akan tetapi, fenomena ini seperti dua sisi mata uang. Di sisi yang lain aku melihat beberapa keluarga hidup bahagia di tengah-tengah keterbatasan. Mereka tidak peduli dengan jumlah materi yang ada, karena menurut mereka berkumpul dengan keluarga adalah hal yang paling mahal yang belum tentu bisa dibeli oleh semua orang.

"Apalah artinya kita punya harta yang berlimpah, kalau ujung-ujungnya kita hidup sendiri tanpa ditemani oleh anak dan isteri. Mungkin orang-orang itu duitnya banyak, tapi hatinya kosong. Tidak selamanya kebahagiaan itu berasal dari harta," ujar salah seorang Bapak yang pernah aku temui akan tetapi aku lupa namanya.

Ketika suatu keluarga semerawut, tapi keluarga ini aman dan tentram dengan keadaannya. Bukan berarti menyerah kepada keadaan, akan tetapi lebih mensyukuri keadaan yang sedang dijalaninya dengan saling pengertian satu sama lain. Setelah Aku lihat, yang membedakan dari keluarga ini adalah ketika sang Ayah dan sang Ibu menikah berdasarkan rasa cinta. Ketika mereka bersatu dan melahirkan seorang anak, bukanlah dipandang sebagai beban akan tetapi suatu karunia. Kesulitan yang mereka hadapi dilewati bersama-sama, sehingga terciptalah suasana yang harmonis. Siapa sangka, keluarga ini belum tentu makan 3 kali sehari. Tetapi susah senang senantiasa mereka lewati bersama-sama.

Jumat, 01 Juni 2012

Ketika Kuajak Mereka Jalan-Jalan Keliling Dunia



Coba lihat tulisan dari tangan-tangan kecil ini, mereka punya mimpi yang tinggi untuk melihat Dunia.

***
Kalau tidak salah hari itu Hari Sabtu, (12/5). Hari di mana aku dan murid-muridku di SD Negeri 01  Indraloka 2 latihan Pramuka untuk yang kesekian kalinya. Sebelum pergi ke sekolah, aku sempat bingung, kira-kira apa yang harus kami lakukan nanti, rasanya hampir semua materi Pramuka sudah aku berikan, dari mulai sejarah, lambang, sandi, bikin tenda, tali temali (yang ini jarang sih soalnya aku lupa caranya hahahaha), baris berbaris, dan lain-lain. Aku takut murid-muridku mulai bosan dengan kegiatan Pramuka ini.

Tiba-tiba aku melihat peta dunia yang aku beli di Tanjung Karang tempo hari. Terbesit sebuah ide untuk mengajak anak-anak Pramuka ini keliling dunia.

Percaya atau tidak aku ini sama sekali tidak pernah mengikuti organisasi Pramuka, waktu SD sekalipun. Tantangan menjadi guru SD di Tulang Bawang Barat ini bertambah ketika ternyata aku juga harus bisa menjalankan ekstrakulikuler di sekolah, dan Pramuka ini adalah salah satu pilihannya. Buku saku Pramuka bisa dijadikan pegangan, tapi kreatifitas benar-benar harus menjanjikan. Aku seperti seorang tim kreatif sebuah televisi yang harus siap dengan ide-ide menarik untuk ditayangkan, agar tidak ditinggalkan oleh para pemirsa. Apalagi ketika pemirsanya anak-anak, yang apabila kita tidak menarik perhatiannya, dengan mudah kita akan ditinggalkan dan mereka akan mencari hal-hal yang lebih menarik lagi.

Setibanya di sekolah aku langsung memasang peta dunia di papan tulis hitam yang terkontaminasi oleh serbuk-serbuk kapur tulis. Para Pramuka Siaga itu langsung tertarik perhatiannya. Maklumlah sekolah ini bisa dibilang sekolah darurat, sehingga mungkin baru kali itu juga mereka melihat peta dunia. Seluruh mata langsung memerhatikan papan tulis.

"Salam Pramuka!"
"Salam"
"Baiklah, hari ini Kakak akan mengajak kalian pergi keliling dunia. Siapa di sini yang mau pergi keliling dunia?"
"AKUUUUUUU," banyak suara bertautan.

Aku menjelaskan terlebih dahulu bahwa di bumi ini ada lima benua. Setiap benua memiliki negara yang punya ciri khas masing-masing. Ketika aku menjadi guru di sekolah ini, aku sering memotivasi murid-muridku agar mereka bisa memiliki cita-cita setinggi langit dan melihat dunia. Baru melihat petanya saja mereka sudah senang bukan kepalang, apalagi kalau memang mereka bisa benar-benar melihatnya :')

"Sekarang, tunjuk satu negara impian yang menjadi tujuanmu kelak nanti. Gunakan imajinasi kalian lalu utarakan kenapa kalian ingin kesana. Janga ragu untuk memilih negara tujuan, mungkin saat ini kita semua hanya bermimpi, tapi tidak ada yang tahu akhir dari mimpi-mimpi itu apakah akan menjadi kenyataan atau tidak. Semuanya tergantung langkah kaki kalian apakah ingin mengejar mimpi-mimpi itu atau hanya diam di tempat."

Semua anak menyerap kata-kataku sambil melemparkan senyuman. Mata mereka menatap peta dunia, pikirannya menerawang jauh ke negara impiannya. Mereka pun mendekati papan tulis lalu menunjuk negara impiannya, menggambarkan benderanya, dan menuliskan untaian-untaian kata mengapa mereka ingin pegi ke sana. Para Pramuka Siaga ini pun melemparkan banyak tanya tentang suatu negara, aku pun menjawab semampuku.

Tidaklah perlu kami membeli tiket pesawat yang mahal. kami hanya perlu memiliki daya imajinasi yang tinggi dan sebuah peta dunia. Semua tinggal tunjuk negara mana yang ingin dituju. Kami bersenang-senang saat itu.

Seperti lambang Pramuka tunas kelapa yang bisa tumbuh di mana saja, walaupun murid-muridku ini berasal dari Tulang Bawang Barat, tidak menutup kemungkinan mereka bisa pergi ke seluruh penjuru dunia.

Rabu, 30 Mei 2012

Mengintip Tulang Bawang Barat

Sudah enam bulan aku menjadi seorang guru di Tulang Bawang Barat. Ketika aku menyebutkan nama daerah tersebut, banyak orang yang tidak tahu di mana daerah itu berada. Tulang Bawang Barat adalah suatu kabupaten baru, yang merupakan pecahan dari Kabupaten Tulang Bawang di Provinsi Lampung. Karena masih baru, Tulang Bawang Barat pun belum ada di peta, sehingga wajar ketika banyak orang yang belum tahu daerah ini.

Aku tepatnya tinggal di Desa Indraloka 2, Kecamatan Way Kenanga. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Sejauh mata memandang Aku hanya melihat perkebunan karet, perkebunan singkong atau perkebunan kelapa sawit. Jalan beraspal yang nikmat untuk dilalui hanyalah Lintas Timur Sumatera. Sisanya? ya hanya jalan berbatu dan jalan tanah, tanahnya pun jenis tanah lempung yang tidak bisa menyerap air. Sehingga ketika hujan deras mengguyur daerah ini, maka siap-siap saja harus melalui jalanan berlumpur.

Tempat tinggalku tidak terlalu jauh dengan Lintas Timur Sumatera, hanya perlu 15 menit jalan kaki saja dari sana. Untuk pulang ke daerah asalku di Bandung bahkan cukup mudah, hanya tinggal jalan kaki lalu mejeng di pinggir jalan sambil menunggu bis dengan tujuan ke Pulau Jawa. Desa ini walaupun terletak di Kabupaten Tulang Bawang Barat, akan tetapi berbatasan langsung dengan Mesuji. Sehingga ketika aku menyebrang di jalan poros yang ada di depan rumahku, maka aku akan tiba di Mesuji. Ketika menyebrang lagi, maka kembalilah aku ke Tulang Bawang Barat.

Mayoritas penduduk di sini adalah orang Jawa. Pertamanya aku juga bingung bahkan aku pun bertanya-tanya apakah pesawat yang Aku naiki tempo hari itu betul-betul membawa ke Pulau Sumatera atau malah membawaku ke Yogyakarta? Karena aku bukannya mendengar Bahasa Lampung, akan tetapi selama ini sejauh kuping mendengar hanyalah Bahasa Jawa. Bahkan sayup-sayup aku bisa mendengar Bahasa Bali dari kejauhan dan bahasa Sunda. Ko bisa? Karena daerah ini adalah daerah yang ditempati para transmigran.

Lampung dikenal sang bumi ruwai jurai, yang katanya sih artinya satu rumah tangga dengan dua keluarga (ruwai dan jurai), maksud dari dua keluarga katanya sih masyarakat Lampung memiliki dua penduduk yakni penduduk asli dan penduduk pendatang. Karena menjadi daerah bagi para transmigran, maka Lampung bisa dibilang seperti Indonesia kecil karena beberapa suku di Indonesia bisa kita temui di sini. Selain orang Lampung di sini ada orang Jawa, Bali, Bugis, Papua dan Sunda.

Beberapa waktu lalu aku main ke rumah salah satu muridku di kampung Sunda yang berada di daerah Mesuji. Rasanya seperti pulang ke Bandung, karena semua orang menggunakan Bahasa Sunda, sadayana tiasa nyarios Basa Sunda. Seperti di dalam teori proksimiti, orang akan mudah berinteraksi ketika memiliki unsur kedekatan. Aku sangat mudah masuk ke kampung ini karena aku berasal dari suku Sunda, rasanya seperti di rumah sendiri.

Banyak yang bilang, beruntunglah Aku karena hanya mendapatkan tugas di Tulang Bawang Barat. Tantangan geografisnya hanyalah jalanan berbatu dan berlumpur, tidak seperti di daerah lain yang harus mengarungi sungai bahkan terletak di suatu pulau kecil. Tapi justru tantangan tebesar di sini adalah sosiologinya. Ketika di Lampung kita akan banyak menemui orang dengan pola tingkah laku yang berbeda-beda sesuai daerah asal. Sehingga di sini sulit untuk beradaptasi dan melakukan sebuah perubahan. Setiap orang hidup seperti robot yang sudah memiliki sistem di dalam kepalanya. Belum lagi kehidupan di desa yang mana kicauan-kicauan dengan mudahnya tersebar dari kuping yang satu ke kuping yang lainnya. Bahkan kicauan akan mendapat berbagai macam bumbu dari satu kicauan ke kicauan lainnya. Terkadang untuk menghadapi orang-orang di sini Aku harus berlapang dada dan menghela nafas.

Tapi justru di situlah seninya. Aku seperti kuliah kehidupan melihat warna warni kehidupan yang Tuhan ciptakan di dunia ini. Mengenal karakter dan akar rumput bangsa Indonesia secara lebih dalam, karena Indonesia bukan cuma Pulau Jawa dan Jakarta.

Hidup Penuh Warna

Mungkin sudah sering kita dengar kata-kata yang ada di judul tulisan ini, "Hidup Penuh Warna".
Bayangkan jika kita mewarnai sebuah gambar dengan satu warna saja, yang menggambar pun akan bosan dan yang melihat pun akan jemu. Tapi suatu gambar yang memiliki banyak warna jelas tidak akan membosankan.

Sama dengan hidup.

Klise memang, tapi kita sudah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup di dunia. Dunia ini bukan hanya ada yang di sekitar kita, dunia ini luas! Sayang rasanya hingga ujung waktu, kita hanya melihat yang itu-itu saja. Lihatlah warna-warni dunia yang Tuhan ciptakan.

Berani keluar dari zona aman, berani memutar arah haluan! Jangan selalu mengikuti jalur yang  ada, lompat, belok, putar arah, lalu cari warna sebanyak mungkin. 

Di sini Aku ingin berbagi cerita tentang bagaimana aku melihat warna-warni dunia. Dari sudut pandangku yang dibingkai oleh kacamataku.


Melissa Tuanakotta

Sabtu, 31 Desember 2011

langkahku di 2011

Januari
menyisingkan lengan baju, mengikat tali semangat di kepala, berjuang sepenuh jiwa menyelesaikan skripsi demi bisa lulus bareng sama pangeran impian. Hahaha konyol memang, tapi memang itu alasannya. aku pingin banget tau nama si pangeran impian yang hanya bisa aku liat dari jauh, dan cari-cari perhatian dengan bolak balik dari perpustakaan ke mushola jurusan jurnalistik. Hanya butuh satu minggu untuk menyelesaikan bab 3, 4, dan 5 demi yudisium di akhir januari. Banyak banget rasanya orang yang berjasa dalam hidupku bulan ini, seperti dosen pembimbingku Pak Dandi dan Bu Nonon, Dosen-dosen jurnalistik yang selalu aku recokin, Teh desi dan kang eja yang paling top markotop buat diganggu ketenangannya, teman-teman seperjuangan riendy, echi, zee, dan feli, my best of the best aisha dan jaki pasangan yang selalu membantuku, dan seluruh keluarga besar jurnalistik. *Asa lagi nulis ucapan terima kasih*

Februari
Impianku pun tercapai, aku bisa wisuda di bulan ini bersama dengan pangeran impianku dan mengetahui namanya, dengan insial YT. Bukan hanya tahu nama, dengan berbagai skenario buatan, aku bisa berkenalan sambil berjabat tangan bahkan berjalan bersama di Graha Sanusi Universitas Padjadjaran ketika gladi resik wisuda. Hahahaha \m/

Secara tidak langsung YT menjadi salah satu motivatorku, sehingga aku hanya membutuhkan waktu 4 tahun lebih sedikit untuk bisa keluar dengan hormat dari Fikom Unpad. Hampir 6 tahun aku berada di Unpad, di mulai tahun 2004 di fakultas pertanian lalu pindah ke fakultas ilmu komunikasi tahun 2006, dan akhirnya namaku menjadi Melissa Tuanakotta S.I.Kom.

Bulan ini juga adalah bulan yang menutup karirku di Unit Hoki Unpad. Bersama dengan teman seperjuanganku Ntip, Openg, Atir, Cicil, ello dan beberapa teman lainnya melewatkan pertandingan luar biasa di IHRPT ITB. Semangat tempur akhir, yang walaupun kami bukan main di final tapi seluruh insan olahraga menyebutnya itu adalah final. Nice work team!!

Maret
oh baiklah, ini adalah bulan pertama aku menjadi pengangguran. Rasanya aku mempertanyakan potensi diri sendiri. Mendapat banyak panggilan dari berbagai macam media cetak tapi tak satu pun gayung bersambut. Bahkan sempat aku merasa patah hati ketika salah satu majalah travelling menggagalkan aku di akhir panggilan. Aku mulai belajar bahwa hidup ini tak semudah yang dibayangkan, apa yang direncanakan belum tentu menjadi jalan di masa depan.

April
Mungkin jika diijinkan, ingin rasanya aku melewati bulan ini. Aku merasa patah hati begitu mendalam dan rasanya kaki ini tidak menapak pada bumi. Aku melayang dalam kepedihan. Aku benci pada diriku sendiri bahkan aku menyulut api perang melawan diriku sendiri. Aku rapuh dan aku merasa sesak ketika bernafas. Untuk selamanya Papah pergi meninggalkan aku pada Jumat, 15 April pukul 2 dini hari.

Mei
Aku mulai bangkit dari keterpurukkanku. Perkataan seorang sahabat membawa aku kembali berdiri dari kesedihan. Aku mulai menata kembali kehidupanku. Berjuang untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri dengan mencoba peruntungan di ibu kota. Aku berhasil menyentuh dua perusahaan media impianku. Aku mendapat kesempatan untuk magang menjadi web editor di majalah femina selama tiga bulan dan mengikuti seleksi di Trans 7.

Orang yang paling berjasa buatku bulan ini adalah Djamilah. Dia adalah sahabat kuliahku di Jurnalistik. Djamilah memberikan aku kesempatan untuk menyicipi kehidupan di Ibu Kota. Terima kasih jamil, kalau kamu baca tulisan ini aku harap kamu menagih janji ke aku untuk mentraktir kamu yah.

Juni
Pertama kalinya aku keluar Bandung dan hidup bersama saudaraku si puspita destiana di Jakarta. Aku meninggalkan semua fasilitasku di Bandung, lalu menyatu dengan keramaian ibu kota. Rutinitas layaknya zombie aku lewati di bulan ini. Bangun pagi, jalan kaki, ngantri trans jakarta, desak-desakan bahkan sikut-sikutan dalam bis, tiba di kantor, istirahat, kerja kembali, pulang, macet berjam-jam, tiba di rumah. Rutinitas yang sama yang harus aku lewati setiap harinya. Itu semua terasa membosankan, sekali lagi MEMBOSANKAN!
Aku belajar satu hal di bulan ini, orang akan melakukan apa saja untuk bisa bertahan hidup.

Juli
Banyak hal terjadi di bulan ini. Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menentukan jalan hidupku. Ketika aku sudah mulai enjoy di Femina, Aku berhasil lolos seleksi Trans 7. Aku masih ingat, ketika aku sedang berdiri dan berdesakkan di dalam Trans Jakarta telepon genggamku berdering membawa kabar bahagia itu. Rasanya hatiku berbunga-bunga, aku berhasil masuk ke perusahaan televisi impianku selama ini menjadi tim kreatif.

Pada saat yang bersamaan satu kabar bahagia pun datang. Sebelumnya aku pernah mendaftarkan diri untuk menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar (IM). Hatiku pun kembali berbunga-bunga, aku masih ingat tanggal 7 saat itu aku dipanggil untuk ikut seleksi. Aku menganggapnya hari yang aneh.

Untung saja sahabatku Noveri Maulana mengingatkanku tanggal 6 malam bahwa seleksi IM tanggal 7. Malam itu aku ketar ketir mempersiapkan persyaratan yang harus di bawa. Oia, gara2 panggilan dari IM ini juga yang menggerakkan aku untuk menyelesaikan revisi skripsi, dan gara2 panggilan IM ini juga yang membuat aku bisa menembus ijazahku dari kampus setelah 5 bulan lulus, karena harus menyelesaikan revisi terlebih dahulu. Kenapa gara2 IM? Karena salah satu persyaratannya adalah aku harus membawa ijazah. Saat hari seleksi, aku sempat nyasar, datang telat, baju berantakan, ga pake persiapan, bahkan ga nyiapin simulasi belajar. Waktu itu aku hanya modal nekat dan pasrah saja. Bahkan ketika pulang pun aku dirundung oleh perasaan pesimis.

Nah bingung kan? 3 pilihan yang harus aku pilih secara tepat untuk masa depanku. Banyak orang aku ajak diskusi, bahkan Tuhan pun aku ajak diskusi melalui do'a dan solat tahajud. Akhirnya dengan berbagai macam pertimbangan aku mengirimkan pesan singkat tanggal 14 kepada Trans7 yang isinya mengurungkan niat untuk bergabung. Aku sedih saat itu dan  akhirnya tetap mencoba peruntungan menjadi anak magang di femina.

Tanpa disangka-sangka aku lolos seleksi IM dan mengikuti seleksi selanjutnya yaitu medical check up. Masalah selanjutnya adalah, aku belum bilang sama mamah kalo aku ikut seleksi IM hahahaha. Pada satu kesempatan pulang ke Bandung, aku berdiskusi panjang lebar dengan mamah untuk meminta restu. Bagaimanapun saat ini aku cuma punya mamah seorang, dan seorang kakak. Sebuah keputusan besar ketika aku harus meninggalkan mereka untuk tinggal di pelosok negeri. Sehingga aku harus meminta restu, tidak bisa pergi melenggang begitu saja. Pada akhirnya ibuku pun setuju walaupun hanya setengah hati. Horeeeeeee!!!

Oia di Juli ini juga aku untuk pertama kalinya berlibur ke luar negeri bersama teman hihihihi. Aku, dan dua orang sahabatku Aisha Ria Ginanti dan Sitti Rahmani melenggang ke Phuket, Thailand selama 5 hari dari tanggal 20-25. Kami berlibur di negeri orang yang bahasanya bahasa planet, hurufnya juga kaya huruf planet. Berasa in the middle of no where, tapi sangat amat menyenangkan.

Agustus
Bulan puasa pertama yang aku lewati tidak di rumah bersama mamah. Aku masih menetap di Jakarta. Terkadang terasa sedih, mengingat bulan ramadhan ini aku sudah tidak memiliki lagi seorang ayah, terkadang ketika bedug maghrib telah bertabuh dan adzan telah berkumandang aku masih saja terluntang-lantung di jalanan ibu kota yang macet. Aku baru merasakan hidup sendirian seperti ini seumur hidupku.

Akan tetapi tahun ini aku bisa mencoba berpuasa di luar negeri hahahaha 8). Bersama seorang temanku Galuh Sitompul, kami berpetualang keliling Hongkong selama satu minggu. Terus aku berhasil menginjakkan kaki di Disneyland, tempat yang selalu aku impi-impikan untuk bisa didatangi sedari kecil <3. Aku pun pada akhirnya merasakan batal puasa yang direncanakan, dan bagaimana menahan haus dan dahaga ketika liburan, itu sangat amat membutuhkan tekad tapi secara tidak langsung menjadi lebih hemat. Banyak godaan buat belanja di HK, intinya adalah jangan pernah ke sana kalau ga bawa uang, pasti menyesal! 

Selesai magang di femina, ketemu banyak temen baru ada Mbak Daria yang masuknya bareng sama aku, ada Rani yang biasa dipanggil bekilm trs kerjaannya nongkrong di setarbak, ada Palen & Aria tante-tante rumpi yg doyan belanja sepatu, ada Didi yang satu tanah sunda sama aku sampai pada akhirnya kami jadi partner dagang mak icih, ada nela yang lucu bikin ngangenin, ada ibeth yang nyasar bareng naik taksi, mbak rintan mantan sekretaris redaksi yg suka cemberut tap baik hati, redaktur-redaktur yang suka pada beli mak icih, dan bos paling pertama dalam hidupku, Mbak Mudi. Tiba-tiba orang-orang inilah yang mengisi kehidupanku selama tiga bulan ke belakang. Bertemu lalu berpisah kemudian selalu seperti itu.

Tapi ada yang pergi ada yang datang. Aku sudah menandatangani kontrak IM dan pastinya akan banyak orang baru dalam hidupku.

September
September akan selalu ceria dalam hidupku.
Semua petualangan baruku dimulai di bulan ini. Awal September aku menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatku sebelum aku pergi mengabdi di pelosok negeri. Bukan perpisahan, karena setelah usai bertugas di IM pasti aku akan bertemu dengan mereka lagi. Tapi ini semua tetap diselimuti rasa sedih :')

Aku ingat, tanggal 12 hari itu. Di mana aku bertemu dengan orang-orang baru yang akan bermain peran dalam skenario kehidupanku. Di jalan galuh jakarta selatan, aku bertemu dengan 46 Pengajar Muda lainnya. Aku menemukan banyak makna hidup di bulan ini, berbagai cerita dari sesama Pengajar Muda sangat membuka mataku terhadap kehidupan. Kemana saja aku selama ini? Hidup dalam kemewahan dan hidup hura-hura. Seolah menutup sebelah mata tidak mau melihat bahwa sebenarnya banyak orang berdikari untuk menjalankan hidupnya, sedangkan aku masih saja berlindung di ketek orang tua. Semoga ini semua menjadi bumerang untuk diriku sendiri.

Oia, bulan ini juga aku sempat menyicipi pelatihan militer di Condet, bersama Rindam Jaya. Rasa-rasanya seumur hidup ga pernah terbesit dalam pikiran jika aku harus memakai baju ala militer, merangkak, baris berbaris, hanya diberi waktu 5 menit untuk makan, jiwa korsa, baris berbaris, dan tidur di barak militer yang menyeramkan. Luar biasa!

Seperti yang aku bilang di awal, September akan menjadi selalu ceria apalagi di akhir bulan. Yang menjadi spesial, aku telah seperempat abad hidup di dunia ini. Ya, tahun ini aku sudah 25 tahun dan tetap jomblo horeeeeee !!
Yang lebih spesial lagi aku berulang tahun di tengah keluarga baruku, Pengajar Muda. Terima kasih untuk sahabatku Ardi Wilda, Gatya, Syakur, Daniel, Fitria, Eki mba ika, mba diah, mba ami, dan mas teguh yang membuat ulang tahunku yang seperempat abad ini menjadi lebih penuh warna. Jika kalian, keluarga besar IM, baca tulisan ini, aku pingin bilang kalian adalah orang-orang pertama yang membuat kejutan hingga aku tidak bisa berkata-kata hingga tanganku bergetar dan aku pun menangis haru. Kehangatan yang diberikan layaknya kehangatan sebuah keluarga. Aku gak lebay, tapi aku jujur bilang kaya gini. Siapa sih yang pernah nyangka baru kenal beberapa hari doang tapi semua berjalan dengan sempurna. Rasa sesak butuh kebebasan terasa sirna dengan pesta ulang tahun kecil ini. Dalam satu kumpulan kertas aku mendapatkan ucapan-ucapan yang memompa semangatku yang mulai surut.Terima kasih.

Oktober
Aku hidup seperti seorang robot. Pelatihan intensif yang sangat amat intensif untuk menjadi seorang pengajar muda. Otak yang hampir tumpul diasah kembali dengan segala macam metode belajar dan tumpukkan tugas. Aku bersama pengajar muda lainnya seperti berada di dalam pusat rehabilisasi, untuk dibentuk menjadi pribadi yang penuh dengan jiwa kepemimpinan dan menjadi seorang gurunya manusia.

Banyak terjadi dinamika di bulan ini. Entah mengapa setelah sekian lama padam, pada akhirnya amygdala pun kembali bekerja sesuai dengan tugasnya. Dimana banyak rasa bercampur aduk seperti gado-gado. Bahagia, sedih, suka, benci, cinta rasanya jadi satu. Waktu demi waktu yang berjalan begitu cepat digunakan semaksimal mungkin sebelum petualangan besar terjadi. Saling memahami satu sama lain dan saling berpegangan tangan dan berjalan dalam satu tujuan.

Di bulan ini juga aku mendapatkan pengalaman pertama menjadi seorang guru di SD Cikereteg 3, Ciawi, Bogor. Pertama kalinya mendapat kesempatan untuk berdiri di depan kelas menghadapi anak-anak yang manis pada awalnya dan menjadi monster pada akhirnya. Satu ungkapan terima kasih aku sampaikan untuk guru-guru di seantero jagat, dengan pengalaman singkat ini aku tahu rasanya menjadi guru.

Bulan ini ditutup dengan dinginnya Situ Lembang. Di Markas Besar Kopasus kami kembali mendapatkan pelatihan militer. Pelatihan ini lebih berat dari pelatihan sebelumnya, di mana kami dilatih untuk bisa bertahan hidup di segala suasana. Berbagai macam skill ala militer aku dapatkan di sini. Bisa dibayangkan baju yang tadinya bersih tanpa noda sempat menjadi basah, kering, basah, kering, lalu berakhir dengan penuh lumpur. Luar biasa, bukan tapi aku ingin bilang SANGAT LUAR BIASA.

November
Satu sosok yang sangat menggugah hati di bulan ini adalah sosok Iwan Abdurachman. Dengan sempurna Abah Iwan merangkum perjalanan aku dan kawan-kawan dalam alunan-alunan lagu. Aku ingat, aku menangis tersedu-sedu saat itu. Mengingat kilas balik yang terjadi dalam kehidupanku. Ketika akhirnya aku melakukan satu hal yang luar biasa dan tidak sia-sia, bukan untuk aku tapi untuk mereka di luar sana.

Untuk pertama kalinya aku menyanyikan hymne Universitas Padjadjaran gubahan Abah Iwan dengan hati bergetar penuh bangga. Bahkan ketika aku wisuda pun aku tidak pernah merasa tergetar hatinya seperti saat itu. Aku dan kawan-kawan Pengajar Muda jebolan Unpad terisak dengan penuh rasa.

Aku pun diberi kesempatan untuk bertemu dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Budiono. Beliau melepas kepergian para Pengajar Muda menuju tempat bertugas. Satu hal yang aku lakukan dan sangat spektakuler. Waktu itu rombongan bis terjebak macet, sedangkan kami hanya memiliki waktu sekitar setengah jam untuk hadir tepat waktu di Istana RI 2. Dengan nekat aku dan Meiske mencegat mobil patroli wilayah, dan memaksa mereka untuk mengantarkan kami ke istana.
Hahahaha aku masih ingat wajah polisi yang terkaget-kaget, karena aku menggedor-gedor kaca mobilnya lalu menyerang dia dengan berbagai kata untuk bisa mengantar kami menuju istana. Alangkah baiknya polisi itu, tanpa pamrih ia mengantarkan rombongan kami dengan sirine yang membelah kemacetan. kami pun tiba dengan tepat waktu, yeahhhh!!! \m/

Setelah itu aku menghadapi dengan berbagai macam perpisahan. Tanggal 3 aku berangkat menuju Tulang Bawang Barat, berpisah sementara dengan segala sesuatunya, dengan kamu, dia dan mereka. Bersama enam pengajar muda lainnya, Meiske, Mita, Acha, Ardi, Arga, dan Daniel, siap menjadi seorang guru di Tulang Bawang Barat. Bertatap muka dengan pengajar muda angkatan 1, lalu berbagi cerita. Aku bertemu dengan Yunita Ekasari Bahrun, baru saja bertemu tapi aku sudah merasa seperti seorang sahabat. Aku dibekali banyak cerita olehnya untuk bisa membumi di sini.

Banyak sekali hal baru yang aku rasakan. Kehidupan yang amat sangat berbeda dengan kehidupan aku sebelumnya, realitas yang begitu berbeda dengan realitas yang aku tahu selama ini.

Desember
Aku merasa tahun 2011 ini begitu banyak cerita. Begitu banyak hal-hal yang terjadi di luar perkiraan, bahkan seumur hidupku tidak pernah terbesit sedikitpun untuk melakukan hal-hal tersebut. Bahkan resolusi yang aku bikin tidak ada yang tercapai, kecuali lulus kuliah.
Banyak perasaan yang muncul dan tenggelam.
Banyak orang yang datang dan pergi.
Semua berjalan seiring waktu tanpa aku tahu apa yang akan terjadi, semua seperti sebuah misteri. Aku pun melangkah tak tahu arah, hanya aku merasa pasti.
Tidak terasa sudah di penghujung tahun.
Terima kasih Tuhan, Engkau sudah memberikan banyak hal kepadaku dan memberikan aku begitu banyak pengalaman berharga yang akan menjadi bekal seumur hidupku.

Resolusi untuk tahun 2012 tidak perlu muluk-muluk aku hanya ingin menjadi orang yang tulus. Itu saja.
Yah kalau boleh sih, semoga Tuhan kasih aku jodoh. Hehehehe 8)

Kamis, 11 Agustus 2011

ketika aku di atas awan

Beberapa waktu lalu aku bersama teman-temanku pergi bermain.
Kami pergi bermain untuk mengintip bagian lain dari benua Asia.
Demi melihat sang mata yang akan tenggelam di ujung sana, Aku pun berebutan untuk duduk di samping jendela.
Rasanya saat itu aku sangat bahagia, seperti seorang bocah yang akan pergi ke sekolah untuk ikut tahun ajaran baru.
Kebahagiaan meluap sehingga bibir ini selalu tersenyum dan tertawa.
Berada di atas awan bersama pesawat udara melintasi negara tetangga dan samudra.
Sayang, bukan langit biru dan awan putih yang kutemui saat itu.
Hanya awan hitam kelam yang terbalut oleh suasana malam.
Rasanya hanya langit-langit pesawat yang membatasiku dengan Tuhan.
Aku pun berkata kepada temanku:
"Hei, sekarang kita ini sedang berada di atas awan. Ayo kita berdoa! Kayaknya kalau kita berdoa saat ini pasti Tuhan langsung mendengar kita. Kita kan paling tinggi diantara yang lain, pasti doa kita paling cepat di dengar. Tidak ada hambatan."
Saat itu temanku hanya tertawa, mungkin menganggapku aneh.
Tapi aku sungguh-sungguh berkata demikian.
Aku berdo'a dengan sepenuh dan setulus hati, karena entah mengapa aku sangat yakin saat itu pasti do'aku akan dikabulkan.

Aku berdo'a kepada Tuhan untuk seseorang yang saat ini sudah berada di atas sana.



hihihihi

Aku jadi ingin naik pesawat lagi.