Pengintip

Sabtu, 05 September 2015

Kapan Kawin?

Bulan-bulan sekarang waktunya musim kawin. Ada yang udah ngasih undangan, ada yang udah melangsungkan pernikahan, ada juga yang baru lamaran. Postingan-postingan mereka rasanya mengiris hati. Kadang-kadang aku merasa iri.

Jangan harap aku menjawab ketika ada yang bertanya "Kapan kawin?". Aku aja enggak tahu kapan aku kawin. Jangan sangka aku enggak mau kawin. Pasti maulah. Apalah rasanya ketika reuni cuma aku yg belum gendong bayi. Apalah rasanya ketika kumpul-kumpul harus cepet bubar,  gara-gara pada udah harus ngurus anak dan suami. Galau. Karena kalo aku pulang cepat-cepat nyampe rumah gak ada yang nunggu.

Tapi bukan berarti alasan aku kepingin kawin gara-gara orang lain udah pada kawin. Nope. Alasan terbesar aku adalah umur aku udah tua hahaha. Udah 28 tahun!!! Bentar lagi 29 tahun!!! Tahun depan 30 tahun!!! Aku gak pingin berbeda umur terlalu jauh dengan anakku nanti. Aku pingin aku bisa menjadi teman anakku ketika dia berkembang, tempat anakku cerita ketika ada masalah. Somehow orangtua adalah orang pertama untuk anak-anaknya. Yang lainnya adalah, aku udah lelah hidup sendiri. Bayangin aja aku pernah ketiduran di lantai kosan, lengkap dengan tas dan sepatu, karena terlalu lelah habis kuliah. Gak ada yang ngurus, gak ada yang ngingetin, gak ada pula yang nyambut. Sedih ya? Hahaha

Tapi kawin kan gak semudah beli garem di Indomaret. Kawin kan harus ada jodohnya kalau gak ada gimana bisa kawin? Pun kalau udah ada juga harus ada lagi penilaian-penilaian yang lain.

Tuhan,
Aku gak tahu sih kalo aku nulis di sini kira-kira bisa nyampe ke atas sana gak, yah? Tapi aku juga selalu membacanya di habis sujudku. Aku ingin menikah saat umurku 30 tahun. Semoga aku segera diberi jodoh yang bisa menjadi imamku, panutanku, dan bisa membimbing aku dengan baik ke arah yang lebih baik. Imam yang bisa menyayangi aku dan keluargaku dengan tulus, tanpa ada maksud dibelakangnya. Imam yang bisa menafkahiku dan anak-anakku kelak. Imam yang bisa meredam emosi negatifku dan menjadi pelindungku serta keluargaku. Imam yang bisa menjaga kehormatanku. Imam yang bisa mengimamiku sampai akhir hayat nanti.

*elap air mata*

Semoga doaku cepat di jabah, ya Tuhan. Kan, orang-orang lagi malam mingguan.

Terima kasih Tuhan.




Kamis, 03 September 2015

Sebuah Pelajaran

Pagi ini aku membaca sebuah artikel tentang mengapa suatu hubungan percintaan harus diakhiri dan bagaimana caranya mempertahankan hubungan agar harmonis.

Ada baiknya memang hubunganku diakhiri karena memang sudah tidak ada yang bisa dipertahankan lagi. Aku seperti tersentil oleh artikel pertama. Ya,  memang jalan berpisah adalah jalan yang paling tepat. Lagian kami belum terikat apa-apa. Beda halnya jika sudah punya anak. Mungkin aku akan masih mencoba untuk bertahan layaknya ibuku yang mempertahankan rumah tangganya hingga aku sebesar ini.

Pelajaran terbesar yang aku petik semuanya terangkum di artikel kedua. Menjalin suatu hubungan dengan orang lain itu tidak mudah. Ada banyak hal yang harus dilakukan, bukan seketldar romansa dan cinta. Cinta itu fluktuatif, dia bisa berubah menjadi besar tapi sewaktu-waktu bisa menghilang.

Salah satu hal yang cukup penting adalah kepercayaan. Dari awal aku sudah menyimpan kepercayaan kepadanya. Tapi kepercayaan itu dianggap sepele olehnya di awal-awal kami pacaran. Sehingga pada akhirnya kepercayaan aku hilang. Mustinya saat itu adalah waktu yang tepat untuk berpisah, untuk apa aku bertahan jika sudah tidak ada kepercayaan. Tapi bodohnya aku masih berpegang kepada hal-hal yang fluktuatif. Lama-lama seperti bom waktu aku meledak dalam kecurigaan. Bertindak seperti seorang detektif yang menyelidiki segala hal. Untuk apa dipertahankan jika terus-terusan seperti ini? Lelah. Lebih lelah daripada mendaki Semeru. Pikiran dan jiwa tidak tenang bisa-bisa menjadi gila.

Hal lain adalah komunikasi. Diam tidak menyelesaikan segalanya. Jujur memang menyakitkan, tapi itu lebih penting. Tapi apa iya yang namanya sayang ingin menyakiti? Aku yakin tidak. Mustinya dengan berkomunikasi baik semuanya bisa lancar. Kalo disengaja mempersulit komunikasi, yah, sama bagai hilang kepercayaan. Lelah. Yang ada hanyalah pertengkaran dan pertengkaran. Pertengkaran ini bagai dirasuki setan sehingga banyak hal yang bisa dilakukan. Tapi dalam sebuah hubungan ada baiknya juga meredam kemarahan. Dengan komunikasi yang baik dan mengesampingkan ego, aku yakin pertengkaran dan kemarahan bisa dihindari. Karena pada intinya ketika kita memutuskan untuk berhubungan dengan orang pasti dilandasi oleh rasa sayang.

Ketika behubungan dengan orang berarti kita membagi kehidupan dengan orang. Saling menghargai, saling mendukung, dan saling menghormati. Sehingga tidak bisa hidup seenak udel. Asal ada kepercayaan dan komunikasi kita pasti bisa menghargai, mendukung, dan menghormati. Semua berkaitan satu sama lain. Jangan mau seenaknya sendiri, merasa ingin dihargai, didukung, dan dihormati, tapi sikap yang ditunjukkan tidak ada yg mendukung agar kita melakukan semua hal tersebut.

Mungkin di awal-awal pacaran semua terasa indah dan sempurna. Segala perbedaan dan tingkah laku bisa diterima dengan lapang dada. Tapi setelah sekian lama kita akan semakin tau bagai mana dalem-dalemnya. Ego masing-masing akan berjalan. Apalagi ketika sudah memutuskan untuk menikah. Menikah itu bukan sekedar menghindarkan kita dari godaan-godaan, pesta besar untuk mengundang orang. Bayangkan, hingga akhir hayat nanti kita harus menghabiskan hidup kita bersama orang lain yang tadinya bukan siapa-siapa. Banyak hal yang harus dipersiapkan, direncanakan, dan dilakukan. Bukan hanya untuk kehidupan kedua pasangan, tapi kehidupan anak dan hari tua.

"Kalo udah nikah mah rejeki pasti dateng dari mana aja." Gimana pendapatmu tentang pernyataan ini? Menurutku pernyataan ini harus disertai dengan tekad yang kuat untuk berjuang hidup. Bukan disertai oleh kepasrahan. Apa iya, kalo tanpa berjuang tiba2 dapet segepok uang untuk ngebiayain anak kita makan, hidup, dan sekolah? Tidak bisa lah kita mengikuti arus dengan diam. Toh ikan aja melawan arus, yang mengikuti arus cuma (maaf)  tai.

Saat perayaan puncak hari anak tempo lalu, dijelaskan dengan gamblang mengapa kehidupan masyarakat Indonesia banyak yang terikat dalam sebuah siklus. Anak akan berada dalam sebuah siklus yang diwariskan oleh orang tuanya. Jika ia miskin maka akan terus menjadi miskin, kecuali si anak memutuskan siklus tersebut dengan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Hal ini disebabkan dengan modal "rejeki datang setelah menikah" tapi hanya dibarengi dengan rasa pasrah. Untuk merubah semuanya, memang harus ada bantuan dan dukungan dari orang-orang disekitarnya. Tapi bukan berarti menunggu diam hingga ada peri baik hati datang yang mengubah semuanya.

Beda halnya dengan "rejeki datang setelah menikah" tapi dibarengi dengan perjuangan. Beberapa teman-temanku sudah membuktikannya. Dan itu terlihat sangat indah. Memulai semuanya dari nol bersama-sama. Istri berjuang, suami berjuang, anak senang, semua tenang.

Bukan berarti cinta si fluktuatif dikesampingkan. Tapi kita bisa posisikan dia di nomer 12. Masa iya mau menikah dengan orang yang tidak kita cintai. Nomer 1-11 mungkin bisa berupa hal-hal penting yang harus dipersiapkan dan bersifat tetap. Tapi entahlah, aku belum menikah jadi belum paham betul masalah membina sebuah keluarga.

Pada intinya, semua menjadi sebuah pembelajaran yang sangat bermanfaat untuk aku untuk membina sebuah hubungan.

Senin, 24 Agustus 2015

Kisah 24 Agustus

Aku ingat hari itu 24 Agustus 2014. Sehari setelah dia pergi untuk mengikuti pendidikan Wanadri. Sementara aku sedang berada di Bangkok. Aku enggak bisa melepas kepergiannya karena penerbanganku bertepatan dengan kepergiannya.

Dini hari aku tak bisa tidur memikirkannya. Apakah semua perlengkapannya sudah siap? Apakah fisik dia kuat? Apakah dia akan bertahan? Apakah dia akan baik-baik saja? Begitu banyak pertanyaan. Aku begitu khawatir karena aku tidak ingon kehilangan dia. Satu-satunya yang berharga dalam hidupku.

Sebelum dia pergi kami hanya berbincang singkat via YM.

Hari-hari aku di Bangkok pun selalu dipenuhi pemikiran tentang dia. Entahlah, dia itu bagai candu. Aku selalu membawa foto kami berdua. Setiap tempat yang aku kunjungi selalu aku abadikan foto kami berdua. Seolah-olah kami sedang pergi bersama.

Jika ditanya seberapa besar cintaku kepadanya? Aku akan menjawab sebesar-besarnya benda yang ada di alam semesta. Seberapa sayangnya aku kepadanya? Aku akan menjawab tidak terhitung, karena aku sangat menyayangi dia lebih dari apapun.

Hari ini melihat foto2 tersebut membuat perasaanku terkoyak. Hatiku sakit, tenggorokanku tercekat. Ketika ternyata perasaanku itu tak terbalas. Semuanya percuma dan sia-sia. Karena aku ternyata tidak mendapatkan perasaan yang sama. Aku bukanlah yang teristimewa. Entahlah apa aku ini dianggapnya, mungkin hanya boneka
pelampiasan saja.
     
 Mungkin Tuhan menegurku atas perasaanku yang berlebihan ini. Mustinya semua perasaan itu aku tunjukkan kepada-Nya dan kepada ibuku. Lihatlah ketika semuanya berantakan, hanya ada Tuhan dan Ibu yang berdiri di sampingku, menguatkanku, menenangkanku, menyayangiku dan selalu ada di sampingku. Kemana orang itu? Entahlah aku tak tahu mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Apakah dia pedulu kepadaku? Tentu saja tidak. Apakah dia selalu mengatku seperti aku yang selalu mengingatnya? Mungkin tidak.

Tuhan adalah dzat pembolak balik hati.  Mungkin ini adalah pelajaran yang sangat berharga untuk tidak terlalu menuangkan perasaan kepada seseorang, untuk tidak terlalu percaya berlebihan kepada orang, dan memberikan segalanya kepada orang. Sifat manusia semuanya sama saat yang diinginkan tidak didapatkan dia akan pergi mencari jalan lain untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sabtu, 22 Agustus 2015

air dan api


Semuanya tersirat dalam lagu Naif. Mengapa kita bagai air dan api. Apa mauku apa maumu bagai masalah yang tak kunjung henti. Bukan maksudku bukan maksudmu untuk selalu meributkan hal yang itu-itu saja.

Kenapa hal yang begitu manis bisa menjadi pahit? Kenapa semuanya gak berjalan mulus?
Kenapa kita gak bisa seiya sekata?
Apakah Tuhan sedang membolak balikan hati?

Lihatlah Tuhan, betapa kami saling menyayangi ketika itu. Dan lihatlah apa yang terjadi saat ini. Hanya ada rasa saling benci.


Kamis, 20 Agustus 2015

Sebuah Akhir


Akhirnya dibuatlah sebuah keputusan. Berat rasanya tapi mungkin yang terbaik.

Beberapa tahun lalu aku mengenal seorang lelaki bernama Teguh Waspada. Orangnya baik dan lucu. Dia selalu melakukan hal-hal aneh yang bisa membuatku gemas dan tertawa terbahak-bahak. Kami pun memutuskan untuk menjalin suatu hubungan.Dari awal aku tahu bahwa kami ini berbeda bagai bumi dan langit. Tapi saat itu aku yakin waktu terus berjalan dan itu semua bisa berubah.

Hubungan kami bukanlah hubungan yang indah layaknya hubungan yang dijalin oleh orang kebanyakan. Mendapatkan apa yang didapatkan oleh perempuan lain hanya menjadi bayang-bayang semu di dalam benakku. Tidak masalah bagiku untuk tidak makan di restoran mahal, tidak masalahlah bagiku aku tidak mendapatkan hadiah di hari ulang tahunku. Tidak masalah, karena aku mendapatkan kasih sayang.

Aku dan dia pun membuat cara bagaimana menjalin hubungan yang sulit ini menjadi manis. Kami melakukan berbagai macam perjalanan. Entah itu perjalanan hingga ujung pulau, puncak-puncak tertinggi di pegunungan, bahkan berputar2 di dalam kota. Menyenangkan ketika menghabiskan waktu bersamanya.

Lambat laun aku mulai merasakan cinta itu bukan segalanya. Ada hal-hal lain yang diperlukan selain cinta untuk membina suatu hubungan. Apalagi ketika ingin menuju jenjang yang lebih serius.

Dalam hati aku sangat yakin dia akan menjadi lelakiku. Lelaki yang akan menghabiskan waktu bersamaku hingga tua nanti. Tidak ada yang sebaik dia memperlakukanku, menyayangiku, memanjakanku, dan rela menyelamatkanku dari sebongkah batu besar yang siap menghantam punggunggu di Gunung Semeru. Siapa yang ingin melepas lelaki seperti ini? Aku yakin tidak ada.

Tapi lagi-lagi perasaan bahwa cinta itu tidak cukup untuk membina suatu hubungan. Banyak faktor lainnya yang harus mendukung cinta. Seperti materi, komunikasi, kepercayaan, tanggung jawab dan rasa saling memiliki. Ketika ada salah satu dari faktor-faktor tersebut tidak diindahkan, maka kisah cinta Dylan dan Milea pun bisa kandas di tengah jalan.

Aku tidak pernah mengerti jalan pikirannya untuk berkomunikasi. Dulu ketika ada suatu masalah dia akan segera menyelesaikannya. Lama-lama dia hanya mendiamkan masalah. Seminggu, dua minggu, bahkan hingga berbulan-bulan. Dia hanya diam. Dalam pikirannya dia ingin membuat aku tenang. Mana ada sih orang yang bisa tenang menjalankan hidupnya ketika dia lagi ada masalah?

Bahkan sekali waktu dia pergi begitu saja. Meninggalkan semua yang sudah dirintis. Karena menurut dia dia tidak bisa bahagia. Sungguh egois, apakah dia berpikir selama ini aku bahagia menghadapi hubungan seperti ini? Saat perempuan lain mendapatkan banyak hal dari pasangannya, aku hanya bisa tarik nafas dalam-dalam dan pura-pura tidak melihat dan mendengar.

Aku cuma berharap dan berharap, karena aku tahu memaksakan apa yang aku inginkan kepadanya itu sangatlah sulit. Tidak bisa, karena di luar kemampuannya. Sehingga aku hanya bisa marah. Dengan harapan dia akan terpacu untuk melakukan sesuatu untukku. Tapi tidak ada yang terjadi. Amarahku hanya didiamkan begitu saja.

Entahlah sengaja atau tidak, tapi dia selalu membuatku marah. Padahal dia tahu hal-hal yNg tidak aku suka. Tapi kenapa dia selalu saja melakukannya. Padahal itu semua hal-hal kecil seperti cepat membalas ketika berkabar, mengangkat telepon, datang tepat waktu, dan menepati janji. Menurutku janji itu adalah sesuatu yang sakral. Ketika janji hanya untuk diingkari. Maka sudahlah tidak ada makna sebuah janji di dunia ini.

Ada lagi hal aneh. Dia punya satu teman laki-laki yang posesifnya minta ampun. Menurutku dia mengganggu. Dari laki-laki inilah si pacarku itu mendapatkan barang yang tidak semustinya dia pakai. Sehabis dia pacaran denganku, diam-diam dia pergi menemui si teman laki-lakinya ini. Bahkan sekali waktu dia pernah naik angkot untuk menemuinya di Depok. Jika si teman laki-lakinya ini menelepon dan tidak diangkat, dia akan langsung menelepon ibunya. Hubungan seperti apa ini? Hubungan persahabatan yang aneh untuk seorang laki-laki. Dia pun membela temannya itu habis-habisan di depanku. Padahal belum tentu dia membela aku di depan temannya itu. Pertengkaran terakhir kami adalah akibat pacarku itu menutup-nutupi pesan dari temannya itu di telepon selulernya. Jika terjadi sesuatu kepada temannya itu, dia langsung buru-buru mendatangi. Sementara ketika aku jatuh dari motor, rapuh akibat pertengkaran, sakit, apakah dia langsung mendatangiku? Tidak. Dengab berbagai alasan. Aneh bukan, hubungan aku dan pacarku rusak akibat tingkah seorang laki-laki?

Aku lelah untuk segala bentuk pertengkaran ini. Aku lelah dengan segala perbedaan pendapat ini. Dia dengan kehidupannya dan aku dengan kehidupanku. Tidak ada solusi yang dia berikan, dia hanya ingin mengejar mimpinya sendiri. Sepertinya dia belum bisa membagi hidupnya dengan orang lain.

Apakah sampai saat ini aku masih sayang kepadanya? Tentu saja. Apakah aku ingin menikah dengannya? Dengan segala yang telah kami lewati, tentu saja. Tapi apakah keinginanku ini yang terbaik? Apakah aku bahagia? Apakah aku siap menghadapi hidup dalam kecurigaan? Apakah aku siap menerimanya menjadi imam dan tunduk di bawah tangannya dengan pola pikir yang dia punya?

Entah sudah berapa banyak air mata ini mengalir. Entah sudah berapa kali hati ini digerogoti oleh kekecewaan.

Aku mau kamu Endon, tapi aku gak bisa seperti ini terus menerus. Kamu pun tidak memeperjuangkan aku secara maksimal. Kamu hanya dengan nafsumu. Kamu hanya membiarkan semuanya itu mengalir sampai pada akhirnya jatuh ke dalam muara dan mengalir kembali ke anak sungai selanjutnya. Tidak pernah berkomitmen untuk berhenti di satu titik untuk kita berdua.

Mungkin inilah yang disebut dengan manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan segalanya. Sampai saat ini pun aku masih berharap semua baik-baik saja. Tapi, itu hanya harapanku saja. Mungkin di sinilah saatnya sebuah akhir cerita. Mungkin. Aku tidak tahu apa rencana Tuhan selanjutnya.

Selasa, 18 Agustus 2015

Sabtu, 15 Agustus 2015

Omong Kosong!

Apa-apa yang dipaksakan itu tidak akan pernah berjalan dengan baik.
Aku sudah berusaha untuk menjalankan suatu hubungan sesuai dengan keinginannya. Apakah berjalan baik? Tidak.
Salah satu pihak akan merasa merasa diatas awan.
Apa yang aku dapatkan? Tidak ada sama sekali. Hanya sebuah kekecewaan.
Diperlakukan bagai barang. Dipakai jika perlu. Didiamkan jika tak perlu.
Bukan seperti ini yang aku inginkan Tuhan.
Aku ingin kebahagiaan. Bukan menjalankan sesuatu di atas sebuah kesedihan.
Bukan seperti ini.
Aku sudah berada dalam satu titik jenuh. Sangat jenuh.
Ketika aku hanya dituntut untuk berubah, tapi sang lawan tidak berubah. Hanya menikmati kehidupannya sendiri. Apa aku harus terhanyut dalam alur kehidupan yang seperti ini? Tidak.
Apa yang sudah aku lakukan, aku keluarkan, aku habiskan, tidak ada artinya.
Hanya untuk memuaskan saja.
Lupakan Melissa. Kamu tercipta bukan untuk diperlakukan seperti sampah.
“Kebaikan itu semu. Orang baik tidak akan memperlakukanmu seperti ini semua.
Masa depanmu masih panjang. Kamu pasti bisa menemukan yang lebih baik lagi.
Hanya perlu keyakinan.
Jika kamu dianggap berharga, kamu pasti akan diperlakukan istimewa.
Strong Melissa. Kamu itu wanita yang kuat. Pasti Tuhan akan memberikanmu yang terbaik.”
Aku akan coba untuk membekukan ini semua. Aku akan diam jika memang diam dan menghilang memang jalan yang terbaik.
Mungkin aku hanya terlibat dalam sebuah omong kosong!

Cepat atau lambat omong kosong ini akan berlalu dimakan waktu.
Kita cuma cukup menikmati detik-detik yang berlalu.
Sendiri akan lebih baik, jika berdua hanya membawa suatu kesedihan.
Jika memang sudah suratan, cinta akan datang tanpa perlu dipaksakan.